Struktur Undakan (Atu) dan Manifestasi Kepercayaan Komunal di Situs Tanjung Leworaja
Rekayasa Lanskap Megalitik:
Situs Tanjung Leworaja di Desa Pantai Harapan, Kabupaten Lembata, menyimpan kekayaan arsitektur pemukiman kuno yang unik. Salah satu peninggalan paling dominan di kawasan ini adalah keberadaan 38 struktur undakan atau pondasi batu yang oleh masyarakat lokal disebut sebagai Atu. Lebih dari sekadar susunan batu, Atu mencerminkan kecerdasan rekayasa lanskap, pembagian ruang, serta pandangan kosmologis masyarakat penghuninya di masa lampau.
Kriya Arsitektural Tanpa Spesi: Teknik Susun Batu Alam
Secara teknis, struktur Atu dibangun mengikuti garis kontur alami perbukitan Tanjung Leworaja. Yang menakjubkan, pengerjaannya menerapkan teknik susun batu kering (dry-stone masonry), yaitu menyusun batuan alam tanpa menggunakan perekat, mortar, maupun spesi.
Variasi ketinggian dinding struktur ini sangat beragam, berkisar antara 30 cm hingga 1,9 meter. Berdasarkan teknik dan kemiringan topografi, Atu diklasifikasikan ke dalam dua kategori:
Atu yang Ditinggikan: Dibuat bertingkat berlapis (2–3 susunan dinding batu) untuk menopang area bertopografi miring atau curam.
Atu yang Tidak Ditinggikan: Dibuat dengan susunan batu tingkat rendah yang ditempatkan pada area datar hingga landa
Dualisme Kosmologis: Amalake vs Inawae
Sistem arsitektur ini tidak berdiri lepas dari pandangan spiritual masyarakat Lamaholot. Kepercayaan lokal (Lera Wulan Tana Ekan) memberikan makna simbolis berbasis gender untuk membedakan kategori Atu:
Amalake (Laki-laki): Merupakan sebutan untuk struktur Atu yang ditinggikan. Posisinya yang menjulang tinggi dipersonifikasikan sebagai Ama Lera Wulan (Bapak Matahari dan Bulan) yang menaungi.
Inawae (Perempuan): Merupakan sebutan untuk struktur Atu yang tidak ditinggikan. Posisinya yang melekat atau dekat dengan tanah melambangkan Ina Tana Ekan (Ibu Tanah dan Bumi) yang memberi kehidupan.
Fungsi Ekologis, Pembatas Ruang & Matriks Artefak
Pembangunan Atu memenuhi berbagai fungsi vital dalam keberlangsungan pemukiman:
Rekayasa Lahan & Mencegah Erosi: Berfungsi sebagai terasering untuk meratakan lereng bukit agar layak dijadikan hunian, sekaligus menahan erosi tanah akibat curahan air hujan.
Pembatas Ruang Hunian: Di area permukiman, Atu tipe Inawae membagi lanskap menjadi petakan persegi panjang sebagai penanda batas antarsatuan rumah.
Pembentuk Punden Berundak (Neme): Di zona publik (Neme), dinding Atu tipe Amalake disusun bertingkat mengelilingi pelataran, membentuk tatanan punden berundak untuk kegiatan ritual komunal.
Matriks Kedudukan Artefak: Teras-teras yang terbentuk menjadi alas atau tempat peletakan berbagai tinggalan arkeologis, seperti lumpang batu, batu pelor, batu berlubang, pecahan gerabah, hingga konsentrasi cangkang moluska.
Menjaga Jejak Arsitektur Tradisional Lembata
Keberadaan 38 struktur Atu di Tanjung Leworaja membuktikan bagaimana masyarakat masa lalu mampu memadukan adaptasi lingkungan, rekayasa sipil sederhana, dan nilai-nilai religius ke dalam tata ruang pemukiman. Upaya perlindungan terhadap situs ini menjadi penting agar pengetahuan lokal dan warisan megalitik Lembata tetap terjaga bagi generasi mendatang.
Rekayasa Lanskap Megalitk
Struktur Undakan (Atu) dan Manifestasi Kepercayaan
ARCHAEOLOGY
STAY CONECT WITH LEMBATA
Subscribe to be updated about latest news and blog posts and to follow what is happening in a magical land of Bali.